Feeds:
Pos
Komentar

Ada sebuah diskusi di slashdot mengenai sebuah band (Harvey Danger) yang menyediakan album mereka secara gratis di Internet. Mengapa demikian? Alasan dari Harvey Danger dapat dilihat di sini: http://harveydanger.com/press/why.php

Ada seseorang di slashdot yang menjabarkan lebih jauh lagi mengapa artis / band sebetulnya suka agar musiknya didownload secara gratis dari Internet. Menurut dia, pendapatan artis dari penjualan CD / kaset itu tidak seberapa. (Saya cek dengan beberapa rekan di dunia musik, memang benar demikian.) Pendapatan artis yang besar justru datang dari:

* Tour
* Merchandise: kaos, boneka, gantungan kunci, dsb.
* Kontrak iklan: Ini yang paling besar, seperti misalnya artis yang dikontrak oleh Pepsi, Nike, dan seterusnya.

Untuk mendapatkan hal-hal di atas, mereka harus dikenal. Semakin banyak orang yang mengenal mereka melalui airtime di radio, video di TV, dan download dari Internet maka semakin terkenal mereka. Semakin terkenal mereka, semakin mahal honor kontrak mereka. Itulah sebabnya artis suka musik mereka didownload dari Internet. Yang kurang suka, tentu saja industri rekaman yang pendapatannya justru hanya diperoleh dari jualan musik mereka (via CD dan kaset) kecuali kalau mereka ikut kebagian rejeki dari kontrak iklan.

Link di slashdot: http://yro.slashdot.org/article.pl?sid=05/10/02/2056210&tid=141&tid=17

Baru-baru ini ada program baru di Polines, yaitu adanya uang makan untuk dosen (dan karyawan?). Uang makan ini besarnya adalah Rp 10000,-/hari. Dia dapat diambil dengan cara mengisi daftar hadir. Saya tidak tahu dengan Anda, tapi bagi saya ada beberapa masalah dengan program ini.

Masalah pertama adalah soal daftar hadir dosen. Wah, ini masalah yang sangat sakral di dunia perguruan tinggi. Entah sadar atau tidak, “big brother” is watching you. Saya tidak tahu apakah pemantauan dosen ini by design atau by accident? Mengapa harus mengisi daftar hadir?

Saya masih berpendapat bahwa dosen itu bukan seperti pegawai harian yang kerja 9-to-5, tetapi kerja penuh. Daftar hadir harian hanya sekedar mencatat kerja di tempat saja. Bagaimana dengan kerja yang dilakukan malam hari? Di luar jam kerja? (Misalnya hari Minggu, hari libur, dan seterusnya.) Apakah memang dosen didesain untuk berhenti bekerja di luar jam kerja? Ini …, lagi-lagi, seperti robot.

Jika memang idenya adalah untuk memberikan uang makan, mengapat tidak diberikan uang makan begitu saja? Cara yang ada saat ini, memberikan uang makan dengan basis daftar hadir menurut saya sangat tidak efisien. Mencatat, mendata, memproses daftar hadir, mengasosiasikan dengan jumlah uangnya, mendistribusikan, dan seterusnya sangat repot. Ada dosen yang datang 15 hari, 16 hari, 17 hari, 18 hari, 19,5 hari (hah?), dan seterusnya. Bagaimana dengan yang tugas ke luar kota? Harus dibuatkan surat tugasnya, tanda tangan yang memberi tugas (Dekan?) kemudian surat ini diteruskan ke admin yang mengurusi uang makan. (Eh, apakah ada dosen yang mau ngurus surat seperti ini HANYA UNTUK Rp 10.000,-???) Dan seterusnya dan seterusnya. Waktu dan atensi dari staf terbuang hanya untuk mengurusi administratif Rp 10 ribuan.

Ada cara yang lebih elegan (dan lebih canggih – waaahhh) untuk mengimplementasikan hal ini. Misalnya, makan siang disediakan di kantin / kafetaria. Dosen datang ke sana dengan menggunakan kartu tanda pengenal (yang katanya akan menggunakan smartcard atau RFid). Proses administratif, pendataan, dan seterusnya sudah diotomatisasi. Tidak perlu menghabiskan sumber daya (resources) untuk hal-hal yang kecil seperi ini. Oh ya, metoda seperti ini sudah banyak dilakukan di beberapa perusahaan di Indonesia. Setidaknya, saya sudah pernah menggunakan cara ini ketika mengerjakan sebuah kerjaan di perusahan tersebut. Maksudnya, ini bukan impian di siang bolong.

Ada hal lain lagi. Jumlahnya adalah Rp 10.000,-/hari. Ini serius? Atau dolanan. Maaf, apakah ada dosen Polines yang makan Rp 10.000,-/hari? Ya dananya hanya ada segitu, pak Jon. Kenapa pak Jon protes sih? Ya saya sih hanya ingin tahu saja. Kalau memang demikian ya memang demikian. Ya kalau memang harga dosen memang hanya segitu, ya penghargaannya memang segitu.

Jadi … kalau ingin memantau dosen, cukup lemparkan uang Rp 10.000,- saja.

Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan situs Video Broadcast yang satu ini, YouTube. Tapi tahukah Anda cara menyimpan video dari YouTube ke harddisk komputer ?

Banyak sekali video yang bisa Anda saksikan melalui situs ini. Video yang Anda saksikan tersebut oleh YouTube dijalankan menggunakan Flash video (.flv). Mungkin pernah terpikirkan oleh Anda bagaimana bisa mengunduh file video sehingga bisa Anda saksikan secara offline, yaitu menggunakan salah satu media player yang ter-install pada komputer Anda.

Berikut langkah-langkah yang bisa Anda ikuti untuk dapat mengunduh file-file video tersebut:

1. Silahkan Anda mencari video favorit yang akan Anda unduh.

2. Jika Anda sudah menemukan, copy-kan URL dari halaman yang menyediakan tayangan video tersebut.

3. Setelah itu, bukalah situs KeepVid, kemudian paste URL tadi pada field URL yang telah disediakan, setelah itu klik tombol DOWNLOAD, contoh: http://www.youtube.com/watch?v=YonaCrVWkSw&mode=related&search=.

4. Tunggu sebentar sampai muncul tulisan Download Link. Kalau sudah muncul, klik tombol tersebut.

5. Proses unduh akan berjalan. Setelah selesai, ubah nama file yang terunduh menjadi *.flv.

6. Kemudian unduh FLV Player untuk dapat menjalankan file yang baru saja Anda unduh.

7. Setelah selesai, jalankan program FLV Player, dan buka file *.flv Anda, dan video akan ditayangkan melalui media player tersebut.

Selamat mencoba!

Posted under:

at 03:43

Sewaktu Windows 95 dirilis, ada fasilitas yang sangat berguna walaupun letaknya agak tersembunyi. Fasilitas ini adalah hardware profiles. Dengan fasilitas ini kita dapat menggunakan lebih dari satu konfigurasi perangkat keras secara bergantian dengan menggunakan hanya satu instalasi Windows.

Sebagai contoh dulu semua komputer yang saya gunakan saya lengkapi dengan removable hard disk enclosure. Jika saya akan berpindah komputer, saya cukup memindahkan hard disk ke komputer tujuan, dan ketika boot saya hanya perlu untuk memilih profil perangkat keras yang bersangkutan. Dengan demikian tidak perlu lagi proses konfigurasi ulang ketika saya berpindah komputer walaupun saya menggunakan satu instalasi Windows dalam harddisk yang sama.

Fitur ini bekerja dengan lumayan baik, walaupun terkadang ada masalah-masalah kecil yang terjadi. Setelah Windows 95 dan Windows 2000, fitur ini selalu ada pada setiap rilis Windows. Dan sepanjang pengetahuan saya, tidak ada sistem operasi lain yang memiliki fitur serupa.

Masalahnya dimulai sejak Windows XP. Jika menggunakan Windows XP, fasilitas ini tidak dapat lagi digunakan seperti sebelumnya. Untuk mencegah pembajakan, Windows XP dilengkapi dengan ‘fasilitas’ Windows Activation. Setelah boot, Windows Activation akan membuat checksum berdasarkan konfigurasi perangkat keras. Jika checksum ini tidak cocok (mungkin akibat adanya perubahan konfigurasi perangkat keras), maka Windows akan menagih pengguna untuk melakukan aktivasi. Jika pengguna tidak melakukan aktivasi selama jangka waktu tertentu, maka Windows tidak dapat lagi digunakan. Akibatnya jelas, fitur hardware profiles tidak lagi dapat digunakan, karena perbedaan konfigurasi perangkat keras sekecil apapun dapat membangunkan Windows Activation.

Ini tentunya sangat disayangkan. Jaman sekarang harga komputer portabel sudah sangat terjangkau, sehingga praktik memindah-mindahkan harddisk kerja dari satu komputer ke komputer lain sudah jarang ditemukan. Tetapi ada teknologi baru yang sebenarnya sangat membutuhkan fitur semacam hardware profile, teknologi baru ini adalah virtualisasi.

Virtualisasi memungkinkan sebuah sistem operasi dijalankan di dalam sistem operasi lainnya. Sebagai contoh, dengan menggunakan VMWare Player kita dapat menjalankan Linux, lalu di dalam Linux kita kembali menjalankan Windows dan keduanya berjalan dengan bersamaan. Rasanya ini adalah solusi umum bagi yang bermigrasi ke Linux tetapi masih membutuhkan Windows dan aplikasinya.

Masalahnya, tidak semua aplikasi dapat dijalankan dalam modus virtualiasi. Dalam kasus ini, satu-satunya solusi yang memungkinkan untuk menjalankan aplikasi seperti ini adalah dual-boot dengan Windows. Jika perlu menjalankan aplikasi ini, kita boot ke Windows. Tetapi jika aplikasi yang kita perlukan dapat dijalankan dalam modus virtualisasi, kita cukup menjalankannya di dalam VMWare Player.

VMWare Player dapat menjalankan Windows langsung dari partisinya, tanpa perlu membuat sebuah harddisk virtual dan menginstal Windows di dalamnya. Kelebihan cara ini adalah bahwa kita tidak memerlukan dua lisensi Windows, satu untuk yang diinstal pada partisi fisik, dan satu lagi yang diinstal dalam modus virtualisasi. Satu salinan Windows dapat digunakan secara langsung dengan menggunakan dual booting, dan dalam modus virtualisasi dengan menggunakan VMWare Player. Dan kedua, cara ini tidak menghabiskan banyak ruang harddisk.

Tetapi sesuai dengan yang saya jelaskan di atas, Windows Activation tidak akan menyukai konfigurasi seperti ini. Jika Windows diaktifkan pada modus dual booting, maka ia akan kembali meminta aktivasi pada saat dijalankan pada modus virtualiasi, dan sebaliknya. Konfigurasi seperti ini tentunya tidak menyalahi aturan penggunaan Windows XP karena secara teknis Windows digunakan pada perangkat keras yang sama. Hanya saja, Windows melihat adanya perbedaan perangkat keras karena dijalankan di dalam modus virtualisasi sehingga Windows mengira perangkat keras yang digunakan berubah atau kita sedang melakukan pembajakan.

Untuk mengklarifikasi masalah virtualisasi ini, Microsoft secara eksplisit menyebutkan hal ini pada EULA-nya. Menurut kabar ini, Windows Vista Home Basic dan Windows Vista Home Premium tidak diperkenankan untuk diinstal di dalam modus virtualisasi. Sedangkan produk Vista yang diizinkan untuk diinstal dalam modus virtualisasi hanyalah Windows Vista Business dan Windows Vista Ultimate.

Bagi pengguna Linux yang ingin menggunakan Windows secara dual-boot dan dalam modus virtualisasi sekaligus, maka pilihan terdekat hanyalah Windows Vista Business atau menggunakan versi sangat lama Windows 2000. Solusi lain tentunya adalah dengan menggunakan dua buah salinan Windows yang berbeda (dan dua lisensi), satu untuk partisi fisik dan satu lagi dalam modus virtualisasi.

Pajak Microsoft

Posted under:

at 18:55

Kemarin secara tidak sengaja saya dan seorang pembaca berbincang mengenai pajak Microsoft. Ringkasannya saya tulis di bawah ini dalam bentuk FAQ.

Apa itu pajak Microsoft?

Pajak Microsoft adalah biaya sistem operasi Microsoft Windows yang dibebankan kepada konsumen yang membeli satu paket komputer. Biaya sistem operasi ini sudah termasuk dalam biaya yang dibayarkan konsumen untuk membeli komputer tersebut.

Mengapa pajak Microsoft tidak disukai?

Alasan yang paling umum dipakai adalah jika konsumen tersebut tidak berencana untuk menggunakan Microsoft Windows, maka yang bersangkutan tetap harus membayar harga produk Microsoft Windows yang sudah termasuk di dalam harga perangkat keras yang dijual.

Bukankah ini sama saja dengan misalnya mobil yang dijual bersama-sama dengan sistem audio?

Jika kita membeli mobil yang dilengkapi dengan sistem audio, maka kita bisa saja menjual sistem audio tersebut di pasar bebas dan mendapatkan kompensasi seharga nilai sistem audio tersebut.

Sebaliknya, sistem operasi Microsoft Windows yang disertakan dalam paket perangkat keras biasanya didistribusikan dalam bentuk yang tidak mudah dilepas dari inangnya. Terkadang, sistem operasi tersebut tidak didistribusikan dalam bentuk CD/DVD, tetapi sudah terekam dalam harddisk dan akan menolak jika dipindahkan ke komputer lain. Konsumen yang ingin menjualnya ke pihak ketiga akan kesulitan untuk melakukannya.

Selain itu, perjanjian lisensi (EULA) Microsoft Windows versi ini secara eksplisit tidak memperkenankan konsumen untuk menjual Microsoft Windows versi bundling ini secara terpisah dari perangkat keras yang menyertakannya.

Apakah pajak Microsoft hanya merugikan pengguna sistem operasi alternatif?

Biasanya yang bersuara keras tentang pajak Microsoft ini adalah para pengguna sistem operasi alternatif seperti Linux atau BSD karena mereka adalah yang dirugikan secara langsung akibat praktik ini.

Tetapi bukan berarti pengguna Microsoft Windows tidak dirugikan. Jika ada konsumen yang menggunakan Microsoft Windows XP dan memperbaharui komputernya sebanyak tiga kali, dengan membeli komputer berpajak Microsoft, maka dia harus membeli perangkat lunak yang sama persis sebanyak tiga kali.

Di sisi lain jika ia membeli Windows XP versi retail, dan membeli komputer tak berpajak Microsoft sebanyak tiga kali, maka ia hanya perlu membayar Windows XP sebanyak satu kali saja.

Apakah ada vendor yang tidak menyertakan pajak Microsoft?

Ada, tetapi tidak banyak. Sepanjang pengamatan saya, ada beberapa vendor lokal di Indonesia yang menjual perangkat kerasnya tanpa pajak Microsoft. Tetapi kebanyakan vendor asing masih menyertakan pajak Microsoft dalam penjualan produk-produknya.

Apakah benar mitos vendor yang menjual komputer berpajak Microsoft hanya diperbolehkan menjual komputer bersistem operasi Windows?

Sepanjang pengetahuan saya, tidak. Perjanjian antara vendor dan Microsoft biasanya hanya melarang vendor menjual komputer tanpa sistem operasi. Biasanya, vendor kemudian mengakali perjanjian ini dengan menyertakan sistem operasi FreeDOS atau Linux.

Lenovo menjual komputer dengan sistem operasi SuSE Linux. Selain itu, Dell juga menjual komputer dengan sistem operasi Ubuntu Linux. Walaupun demikian, kedua vendor ini juga menyediakan komputer dengan sistem operasi Windows.

Bagaimana cara untuk menghindari membayar pajak Microsoft ini?

Cara terbaik adalah dengan memilih vendor perangkat keras yang tidak menyertakan sistem operasi, atau menyertakan sistem operasi dengan lisensi bebas. Dengan demikian kita yakin bahwa dalam harga komputer yang dimaksud tidak ada komponen harga sistem operasi yang tidak akan pernah kita gunakan.

Jika vendor yang kita pilih biasa mengenakan pajak Microsoft, cara terbaik adalah dengan meminta produk tanpa sistem operasi atau produk dengan sistem operasi berlisensi bebas sebelum membeli produk yang bersangkutan; tentunya dengan tidak melupakan potongan harga.

Bagaimana bagi yang terlanjur membeli atau tidak punya pilihan lain selain komputer berpajak Microsoft?

Beberapa orang berhasil mendapatkan ganti rugi setelah memberi tahu vendor yang bersangkutan duduk permasalahannya. Biasanya langkah tersebut dilakukan setelah memilih untuk tidak setuju dengan EULA ketika ditanyakan apakah setuju atau tidak setuju.

Walaupun demikian, tidak ada langkah yang baku yang bisa diikuti. Cara-cara untuk mendapatkan ganti rugi tersebut berbeda untuk vendor yang berbeda, pada negara yang berbeda dan bahkan cabang yang berbeda pula. Selain itu ada pula resiko permintaan anda akan ditolak mentah-mentah.

Berapa besar dari pajak Microsoft tersebut?

Tidak ada yang tahu persis, dan mungkin akan sulit dihitung secara pasti. Pajak Microsoft hanyalah satu hal dari kerjasama antara Microsoft dan vendor perangkat lunak. Selain pajak Microsoft, kerjasama tersebut juga dilakukan dalam bentuk co-branding (penggunaan logo Designed for Microsoft Windows), co-marketing (penggunaan pernyataan Acme recommends Windows Vista Home Premium for personal computing pada setiap iklan perangkat keras) dan sebagainya.

Harga yang pantas dari sisi konsumen sebenarnya adalah harga retail dari perangkat lunak tersebut. Seandainya sistem operasi tersebut tidak benar-benar terikat pada perangkat kerasnya dan tidak ada hambatan teknis maka wajar jika perangkat lunak tersebut dijual dengan harga sedikit di bawah harga retailnya.

Walaupun demikian, beberapa yang berhasil mendapatkan ganti rugi mendapatkan jumlah ganti rugi sekitar €30 atau $50.

Lalu bagaimana dengan pajak SuSE, pajak RedHat, pajak Ubuntu, pajak Xandros? Bukankah sama saja dengan pajak Microsoft?

Saya berpendapat jika seseorang tidak berniat untuk menggunakan SuSE, RedHat, Xandros atau Ubuntu pada komputer yang akan dibelinya, maka dia berhak untuk mendapatkan kompensasi wajar.

Vendor boleh saja menjual komputer dengan menyertakan sistem operasi SuSE, Redhat atau Ubuntu, tetapi seharusnya pengguna bisa saja menjual atau mengalihkan lisensi perangkat-perangkat lunak tersebut kepada pihak ketiga tanpa harus dihalang-halangi.

Selain itu, vendor bisa saja menyertakan sistem operasi Linux tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan. Tanpa memberikan dukungan teknis, sistem operasi Linux dapat diberikan dengan mudah dan murah. Dan dengan demikian komponen biaya perangkat lunak menjadi tidak signifikan.

Apa ada situs yang khusus membahas ini?

Silakan lihat-lihat:

Apakah saya sudah berpengalaman dalam hal ganti rugi pajak Microsoft ini?

Belum pernah. Apa anda memiliki pengalaman yang bisa diceritakan?

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!